|
100 HARI BERWACANA: Tantangan Masih Menghadang |
|
|
|
|
Ditulis Oleh Administrator
|
|
Tuesday, 16 February 2010 |
|
Senin, 15 Februari 2010 | 02:59 WIB Oleh Riza Damanik Tepat 28 Januari 2010, Kabinet Indonesia Bersatu genap berusia lima tahun 100 hari. Bagi keluarga nelayan dan petambak, merupakan masa panjang untuk menanti prestasi utuh yang diwacanakan oleh pemerintah. Lebih jauh, program 100 hari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) justru mengisyaratkan pilihan yang tidak substantif sehingga gagal menggenapi target.
|
|
Pemutakhiran Terakhir ( Tuesday, 16 February 2010 )
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
M. Riza Damanik: Nasib nelayan memprihatinkan |
|
|
|
|
Ditulis Oleh Administrator
|
|
Thursday, 28 January 2010 |
|
Duta Masyarakat | 24 Januari 2010 PERSPEKTIF BARU dimuat sebagai sindikasi sembilan koran se-Indonesia, termasuk Haria Umum Duta Masyarakat. Kini kita bincang-bincang tentang perikanan yang merupakan hal penting karena bicara tentang perikanan selalu berhubungan dengan nelayan. Kita mengetahui nelayan termasuk warga negara kita yang berekonomi lemah,kontras dengan perannyasebagai pahlawan protein bangsa. Untuk itu narasumber kita adalah M. Riza Damanik dari Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara). Berikut wawancara Jaleswari Pramodhawardani dengan M. Riza Damanik. Apa itu Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) yang Anda dan kawan-kawan berada di dalamnya? Kiara adalah sebuah organisasi koalisasi dari individu, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan organisasi masyarakat (Ormas) yang memang memiliki perhatian lebih terhadap masyarakat nelayan, sektor kelautan dan perikanan secara umum.
|
|
Pemutakhiran Terakhir ( Thursday, 28 January 2010 )
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Indonesia, Belanda, dan Sertifikasi Perikanan |
|
|
|
|
Ditulis Oleh Administrator
|
|
Tuesday, 12 January 2010 |
|
Sinar Harapan: Kamis, 07 Januari 2010 13:35 Oleh M. Riza Damanik Saat ingin menghadiri KTT Perubahan Iklim ke-15 di Kopenhagen, Denmark, penulis berkesempatan terlibat diskusi terbatas pada Forum Kelautan Belanda (Ocea nenoverleg), 3 Desember 2009, di Amsterdam, Belanda. Forum ini menjadi menarik, setelah topik diarahkan untuk mengungkap tanggung jawab Belanda dalam menjamin keberlanjutan sumber daya ikan dunia, di tengah-tengah meluasnya dampak buruk perubahan iklim, termasuk di perairan Indonesia. Atas nama keberlanjutan perikanan, instrumen sertifikasi diposisikan sebagai solusi yang mengemuka dalam diskusi. Tahun 2015, IDH (Initiatief Duurzame Handel/the Dutch Sustainable Trade Initiative) sebuah forum para pihak mematok target 15 persen dari produk impor udang, nila (tilapia), patin (pangasius) dan sejumlah komoditas ikan lainnya, akan masuk di bawah skema sertifikasi. Porsi itu dicanangkan meningkat menjadi 30 persen pada tahun 2020.
|
|
Pemutakhiran Terakhir ( Wednesday, 13 January 2010 )
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
PERUBAHAN IKLIM: Potensi Ikan Kita Bisa Turun |
|
|
|
|
Ditulis Oleh Administrator
|
|
Monday, 04 January 2010 |
|
Senin, 4 Januari 2010 | 03:07 WIB Oleh Alan F Koropitan Hasil Konferensi Perubahan Iklim di Kopenhagen sangat mengecewakan karena melenceng jauh dari harapan masyarakat dunia. Hasil Kopenhagen mengandung ketidakpastian dalam pembatasan emisi CO ke atmosfer. Hal lain yang jadi pertanyaan, mengapa isu kelautan tidak masuk dalam teks ”Copenhagen Accord”. Jadi, laut tidak diperhitungkan dalam mitigasi perubahan iklim. Keputusan ini sebenarnya adalah hal yang wajar. Chris Sabine, peneliti National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dan kawan-kawan. (2004) melaporkan, pada era sebelum industri, laut global adalah pelepas karbon ke atmosfer. Kondisi pada waktu itu adalah seimbang.
|
|
Pemutakhiran Terakhir ( Monday, 04 January 2010 )
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>
|
| Hasil 1 - 4 dari 53 |