kiara.or.id

Home arrow Arsip arrow Aktivitas arrow Studi kasus trawl serta aspek sosio-ekonomi nelayan tradisional & nelayan buruh di Kalimantan Timur
Studi kasus trawl serta aspek sosio-ekonomi nelayan tradisional & nelayan buruh di Kalimantan Timur PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Administrator   
Tuesday, 08 September 2009
No        : Penting
Perihal : Undangan, Putaran Diskusi Kajian Perbatasan I:


Wilayah perbatasan negara sering kali dibayangkan sebagai area pinggiran yang ”asing”. Imajinasi masyarakat tentang perbatasan negara adalah garis merah di atas peta nasional sebelum daerah putih. Garis ini merupakan pinggiran kedaulatan, kawasan frontier yang rentan aktivitas ilegal dan penyusupan paham-paham asing – dan pengamanannya ada di bawah tanggung jawab negara.
 

Georg Sorensen, ilmuwan hubungan internasional, menjelaskan masalah terbesar untuk menciptakan sebuah keamanan nasional dan negara kuat justru kerap terhambat oleh keterbatasan kemampuan, jika tidak dikatakan ketidakmampuan, negara. Kedua aspek itu terbukti saat Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) menerbitkan lagi kebijakan yaitu Peraturan Menteri (Permen) No 06/MEN/2008 yang dikemudian direvisi menjadi Permen No. 14 Tahun 2008. Pemerintah mengizinkan penggunaan trawl secara terbatas, di perairan Kalimantan Timur (Kaltim) (Kompas, 24/03/2008).

Kebijakan melegalkan trawl di perairan Kaltim sebenarnya suatu tindakan inkonsistensi dalam menegakkan aturan. Trawl merupakan alat tangkap yang merusak lingkungan, menghancurkan rumah ikan dan 40% hasil tangkapan yang bukan sasaran (bycatch) dibuang, juga menimbulkan konflik sosial (Investigasi JALA, 1999). Sehingga kemudian melalui Kepres 39 Tahun 1980 masih melarang penggunaan alat itu. Friksi yang mencuat di Kalimantan Timur menjadi demikian rumit sekaligus menarik dengan temuan sebagian besar pemilik trawl adalah toke berkebangsaan Malaysia dan maraknya perdagangan ikan illegal.

Sekretariat KIARA (Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan), membangun wadah bertukar pengetahuan secara leluasa dalam Bincang Sore: Studi kasus trawl serta aspek sosio-ekonomi nelayan tradisional dan nelayan buruh di Kalimantan Timur, yang diadakan pada:

Hari/ tanggal : Jumat, 11 September 2009
Waktu : 16.00 s.d selesai (ditutup dengan buka puasa bersama)
Tempat : Sekretariat KIARA Jl. Tegal Parang Utara No. 43 RT/ RW 004/ 04.
Telp. 021-7970482

Bincang sore akan diisi pemaparan dari Dedy Ramanta (Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia-KNTI) dan Muh. Karim La Moha (Direktur Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim). Sekretariat KIARA mengharapkan kehadiran anda sebagai peserta aktif. Terima kasih.
 
”Apakah orang Indonesia hanya (bisa) hidup terpencil dikelilingi gunung berapi dan hidup dari usaha pertanian untuk kemudian dikolonisasi oleh penguasa yang menguasai lautan Indonesia?”

Ong Hok Ham. Kompas (28/08/2009).

Hormat Kami,



Midaria Novawanty Saragih
Knowledge Management
KIARA – Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan


Comments
Add New Search
+/-
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
 
:D:):(:0:shock::confused:8):lol::x:P:oops::cry:
:evil::twisted::roll::wink::!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.20 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Pemutakhiran Terakhir ( Wednesday, 09 September 2009 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Pengunjung KIARA

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday166
mod_vvisit_counterYesterday297
mod_vvisit_counterThis week792
mod_vvisit_counterThis month5731
mod_vvisit_counterAll63540

Form Masuk






Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar

Statistik

Anggota: 120
Berita: 866
Pranala: 0

Buku Baru

MENJALA IKAN TERAKHIR  Ini tidak hanya sebuah buku yang memberikan informasi, namun juga bukti keseriusan untuk mengungkap situasi kelautan Indonesia.

Serbaneka KIARA

PERNAK-PERNIK KIARA   
RUANG BACA   
BULETIN KIARA
  
South to South (StoS) adalah gerakan penyadaran dan penggalangan solidaritas dengan menggunakan film dan media visual.