| Dana 1,6 Triliun Jangan Sampai Diambil Pengusaha |
| Friday, 12 February 2010 | |||||||
|
Politik, Rakyat Merdeka, 31 Dec 2009 TAMBAHAN Anggaran sebesar Rp 1,6 triliun yang akan diajukan Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) bisa diterima DPR. Namun, ada kekhawatiran, dana tersebut dialokasikan untuk memberikan insentif kepada para pelaku usaha, bukan nelayan tradisional. "DPR jangan begitu saja menyetujui tambahan anggaran yang diajukan DKP, karena dana tersebut bisa saja tidak semuanya mengalir ke nelayan tradisional," kata Sekjen Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), Rizal Damanik. Mengacu kepada penghapusan retribusi terhadap nelayan yang bisa dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan penangkapan ikan untuk terbebas dari pajak. Rizal mengatakan, anggaran 1,6 triliun juga bisa dimanfaatkan oleh perusahaan tersebut. "Jangan sampai tambahan anggaran itu nantinya sia-sia dan tidak berdampak pada peningkatan kesejahteraan nelayan-ne- layan tradisional," tegasnya. Dia prihatin karena pemerintah sekarang terkesan menghambur-hamburkan uang negara, misalnya membeli mobil dinas baru untuk pejabat negara yang harganya hampir satu miliar. "Coba kalau dibelikan perahu dan alat tangkap untuk para nelayan, bisa 10 ribu nelayan yang meningkat kesejahteraannya. DPR harus mengawal penggunaan anggaran itu agar tidak terjadi pemborosan," tukasnya. Anggota Komisi IV DPR dari Fraksi Partai Hanura, Erik Sanya Wardhana mengatakan, pihaknya sudah mengetahui upaya DKP meminta anggaran untuk meningkalkan produktifitas budidaya ikan. DPR, katanya, siap mendukung program tersebut. "Kita tidak ada masalah kalau DKP minta tambahan anggaran. Sepanjang itu logis dan bisa benar-benar meningkatkan produksi, kenapa nggak," katanya kepada Rakyat Merdeka, kemarin. Erik meminta, jika DPR menyetujui penambahan anggaran itu, DKP tidak mensia-siakan-nya. "DKP harus memprioritaskan nelayan-nelayan tradisional ying selama ini termarginal-kan," tegasnya. Sementara itu. Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad mengaku, tambahan anggaran itu akan dipergunakan untuk melakukan pengembangan besar-besaran di produksi rumput laut dan budidaya ikan. DKP, katanya, menargetkan kenaikan budidaya ikan hingga 300 persen. Dengan demikian. Fadel berharap pada tahun 2015, Indonesia akan menjadi produsen ikan besar di dunia. Bahkan, pihaknya berencana membuka pasar baru di TimurTengah, setelah Eropa, Jepang, dan Amerika yang pasar produksi ikan Indonesia. rn Sumber: http://bataviase.co.id/node/32697
Powered by !JoomlaComment 3.20
3.20 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|