| Menakar Mimipi Cucu Pelaut |
| Wednesday, 17 February 2010 | |||||||
|
17/02/2010 - Kategori : Berita
Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad bercita-cita tinggi. Tak lama setelah dilantik, sang menteri membidik Indonesia jadi penghasil produk kelautan dan perikanan terbesar di dunia pada 2015. Menguasai lautan, selaiknya nenek moyang dahulu. "Kementerian Kelautan dan Perikanan bermisi menyejahterakan masyarakat kelautan dan perikanan di negara ini," demikian syahadatnya di hadapan para pemangku kepentingan kelautan dan perikanan, beberapa waktu lalu. Di manakah posisi Indonesia yang memiliki 17 ribu pulau dan 95 ribu kilometer garis pantai dalam jagad percaturan produk perikanan? Ternyata di posisi empat dunia dengan volume produksi 10,06 juta ton pada 2009. Cina menjadi pemuncak persaingan yang tahun lalu bisa memproduksi 45-46 juta ton. Belakangan, volume produksi perikanan Indonesia memang meningkat. Sektor ini tumbuh rata-rata 10,2 persen pertahun sejak 2005. Dari nominal produksi, sektor perikanan kini bernilai lebih tinggi. Hal ini berdampak meningkatnya nilai produksi perikanan dengan rata-rata kenaikan 15,6 persen pertahun. Total nijai produksi perikanan mencapai Rp 102,78 triliun pada 2009. "Di 2014, total produksi perikanan kita dari tangkap maupun budi daya ditargetkan 22,39 juta ton," ungkapnya. Menurut Fadel, untuk menjadi nomor satu di dunia, Indonesia harus mencontoh Cina yang menjadi contoh paling baik dalam menggenjot produksi perikanan budi daya. Pemerintah juga telah membuat strategi besar yang tertuang dalam Kebijakan Revolusi Biru. Melalui penyempurnaan teknik budi daya perikanan, Cina berhasil menaikkan produksinya 40 kali lipat dalam 30 tahun dari 1978 sampai 2008. Pertumbuhan budi daya perikanan mayoritas disumbang kemajuan ilmu pengetahuan seperti aquajeeds, pembibitan, dan pengendalian penyakit. Pada 1949, produksi budi daya ikan di Cina hanya 19 ribu ton sementara Indonesia 25 ribu ton. Di 2008 produksi Cina mencapai 42 juta toji dan Indonesia hanya 3,9 juta ton.. Padahal Indonesia memiliki sejumlah modal penting". Garis pantainya tiga kali lebih panjang dari Cina dan kawasan sungai yang 16 kali lebih luas. Posisi Indonesia di peringkat 11 pemasok pasar produk perikanan internasional sebagai potensi menjanjikan. "Tapi konsumsi ikan per kapita di Jawa dengan penduduk terbanyak masih di bawah tingkat konsumsi ikan nasional," keluh Fadel. Sejumlah langkah disiapkan agar produksi perikanan budi daya bisa meroket. Fadel menyebutkan, diversifikasi dan ekspansi berkesinambungan. Selain itu penyempurnaan regulasi dan peraturan yang mendorong iklim budi daya yang sehat, termasuk kemudahan akses ke sumber keuangan. Selanjutnya, teknik budi daya secara gradual disempurnakan. "Dengan langkah-langkah tadi, target menjadikan Indonesia penghasil produk kelautan dan perikanan terbesar di dunia pada 2015 adalah keniscayaan," janji mantan gubernur Gorontalo ini. Jangan hanya mimpi Kepercayaan diri Fadel ditanggapi berbeda oleh Sekjen Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara), M Riza Damanik. Target besar itu sulit terwujud karena fondasi tak dipersiapkan. "Peningkatan produksi lebih dari 350 persen dalam lima tahun mustahil," kritiknya. Riza berpendapat, Kementerian Kelautan dan Perikanan seharusnya membenahi lima masalah sebelum mencanangkan target demikian tinggi. Pertama, stok kuantitas pakan perikanan budi daya belum terjamin, serta harganya mahal. Kedua, belum ada studi komprehensif terkait bibit ikan budi daya yang sesuai dengan kondisi iklim saat ini. Ketiga, distribusi bahan bakar untuk kendaraan perikanan tangkap masih tersendat. Keempat, peraturan perikanan daerah dan pusat belum terharmonisasi. Terakhir, kendala permodalan yang dialami nelayan. Riza pun mengkhawatirkan ekspansi produksi perikanan terutama budi daya justru berpotensi merusak lingkungan, terutama hutan bakau. Selama 2008 sampai 2009, jumlah tangkapan nelayan turun sekitar 40 persen. Kerusakan lingkungan telah menurunkan jumlah tangkapan hingga nelayan harus berlayar makin jauh. Pencemaran dan konversi lahan payau juga menjadi masalah serius. Pesimisme juga terlontar dari peneliti ekonomi perikanan dan kelautan dari Institut Pertanian Bogor, Achmad Fahrudin. Menurutnya, pemerintah perlu melakukan pemetaan potensi, terutama penataan kawasan tambak dan budi daya lainnya. "Ketimbang memperluas lahan budi daya, sebaiknya intensifikasi di kawasan yang sudah ada," pesannya. Mimpi besar menjadi produsen perikanan terbesar dunia pada 2015 tampaknya masih jauh panggang dari api. Lima tahun mendatang, produksi Indonesia baru separuh dari produksi Cina tahun 2009. Sebelum itu, bangsa Indonesia masih bisa bernyanyi mengenai nenek moyang mereka memang pelaut yang gemar mengarungi samudera Bed rahmad bh. (Shally Pristine) Sumber : Republika 17 Februari 2010 Hal 19
Powered by !JoomlaComment 3.20
3.20 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|