| 'Industri udang perlu moratorium' |
| Wednesday, 10 March 2010 | |||||||
|
Produksi udang nasional 2014 ditarget naik 75% JAKARTA: Industrialisasi tambak udang skala besar yang tidak mengindahkan kepentingan petambak plasma dan keamanan lingkungan hidup harus dihentikan. Hal itu diserukan kalangan lembaga swadaya masyarakat (LSM) pemerhati perikanan menyusul monopoli usaha tambak skala besar oleh pengusaha yang dianggap merugikan plasma. Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) M. Riza Damanik menegaskan pemerintah harus tetap memfokuskan pengembangan sektor pertambakan skala kecil, selain memberi kesempatan investor besar. "Moratorium industri udang dapat dijalankan dengan cara, a.l. menghentikan pembukaan lahan budi daya udang yang baru sembari melakukan rehabilitasi, optimalisasi tambak yang ada," tegasnya kemarin. Di sisi lain, dia mengatakan pemerintah harus ikut campur dalam pemberdayaan 16.000 hektare (ha) tambak udang di Lampung yang kini dikelola PT Central Proteinaprima Tbk (CP Prima) dan belum seluruhnya beroperasi optimal. Di sisi lain, pemerintah harus memperketat regulasi sektor perudangan menyusul rencana pebisnis, industri ritel dan berbagai organisasi internasional yang berkeinginan menggenjot produksi budi daya dunia melalui standar Aquaculture Stewardship Council (ASC). "Upaya pemerintah untuk meningkatkan produksi perikanan budi daya hingga 353% dalam periode 2010-2014 adalah berita buruk. Laju perluasan tambah berbanding lurus dengan produksi, tetapi berbanding terbalik dengan hasil penjualan," tukas Riza. Dia menyebutkan harga udang di pasar internasional terus menurun dari US$11,9 per kg pada 2005 menjadi US$6,8 per kg pada 2008. Di lain pihak, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) justru optimistis menargetkan produksi udang meningkat 74,75% dari 400.000 ton pada 2010 menjadi 699.000 ton pada 2014. Dirjen Perikanan Budi daya Kementerian Kelautan dan Perikanan Made L. Nurdjana menuturkan peningkatan produksi udang akan diarahkan pada dua jenis, yaitu udang vaname dan udang windu. "Untuk meningkatkan produksi udang vaname, KKP akan menerapkan strategi berupa teknologi semiintensif sampai dengan superintensif dengan produktivitas antara 4 ton per hektare (ha) hingga 20 ton per ha per musim tanam," ujarnya kemarin. Dia mengatakan untuk budi daya udang windu dikembangkan dengan teknologi sederhana dan organik melalui sistem polikultur dengan bandeng dan rumput laut gracilaria. Bangun pembenihan Untuk mendukung pengembangan budi daya udang tersebut, kegiatan ini harus didukung dengan penyediaan benur melalui pengembangan pusat pembenihan (broodstock center/BC). KKP diketahui telah membangun BC udang di Situbondo, Jawa Timur dan Karangasem, Bali untuk memenuhi penyediaan induk unggul udang vaname. Made menjelaskan meningkatnya persaingan antaranegara penghasil udang di pasaran dunia, membuat Indonesia harus terus meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi udang. Terkait upaya untuk memenuhi syarat konsumen dunia terhadap sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan, Made menyatakan pihaknya telah menerapkan beberapa kebijakan. Sejumlah kebijakan itu a.l. sertifikasi Cara Budidaya Ikan Yang Baik (CBIB) bagi unit usaha budi daya ikan, sertifikasi Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) bagi unit pembenihan, dan pendaftaran pakan ikan. Data KKP menunjukkan total tambak saat ini mencapai seluas 450.000 ha, yang dimanfaatkan untuk budi daya bandeng, udang dan polikultur rumput laut, udang dan bandeng. Dari luasan tersebut, sekitar 60% atau 270.000 ha dimanfaatkan untuk budi daya udang, yang terdiri dari tambak intensif seluas 27.000 ha, tambak semiintensif seluas 40.500 ha dan sisanya adalah tambak tradisional. (Aprika R. Hernanda) (diena.lestari@ bisnis.co.id) Oleh Diena Lestari Bisnis Indonesia Sumber: http://www.bisnis.com/servlet/page?_pageid=127&_dad=portal30&_schema=PORTAL30&vnw_lang_id=2&ptopik=A29&cdate=10-MAR-2010&inw_id=722407
Powered by !JoomlaComment 3.20
3.20 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|